MAKALAH
KOMPONEN,
FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar
Pendidikan
Dosen Pengampu:
Kiswan, S.Ag. M.Pd.
Di Susun Oleh :
Annisa Aulia
FAKULTAS
TARBIYAH
PENDIDIKAN GURU
MADRASAH IBTIDAIYYAH (PGMI)
INSTITUT AGAMA
ISLAM DARUSSALAM (IAID)
CIAMIS JAWA BARAT 2013/2014
Kata Pengantar
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karunia-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah ini. Meskipun penyusunan makalah ini belum sempurna
tetapi penulis berusaha untuk menghasilkan yang terbaik. Makalah ini dibuat
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Dasar-dasar Pendidikan’’ dengan
materi pembahasan yang saya pilih adalah tentang “Komponen, Fungsi dan Tujuan
Pendidikan’’.
Makalah
ini kami susun dengan tujuan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester untuk
membantu dosen menyiapakan perangkat alat penilaian, baik yang digunakan
sebagai penilaian proses belajar, maupun untuk penilaian hasil belajar. Selain
itu makalah ini diharapkan ikut membantu pembaca untuk lebih memhami dan
mendalami kajian teoritis pada buku sumber dan penunjang yang digunakan
sehingga dapat terlatih serta mampu berpikir kritis, analitis dan sistematis.
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini. Semoga Allah SWT membalas dengan limpahan karunia dan inayah-Nya
dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat.
Ciamis, Desember
2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini, tanpa adanya
pendidikan manusia akan bertindak semaunya tanpa tahu aturan. Pendidikan adalah sebuah sistem. Sebuah sistem terdiri dari
beberapa komponen, tanpa adanya gabungan dari beberapa komponen, sistem
tersebut tidak akan bisa berdiri dan tidak akan bisa mencapai tujuannya. Sama
dengan sistem pendidikan, pendidikan tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya
komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuk pendidikan itu sendiri. Komponen
pendidikan tersebut harus ada dalam
sebuah pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika tujuan pendidikan
sudah tercapai, maka pendidikan akan berfungsi sebagaimana mestinya.
Dari uraian tersebut, dapat difahami bahwa komponen pendidikan itu
penting untuk diketahui agar dapat mencapai tujuan pendidikan dan agar
pendidikan itu berfungsi dengan baik. Dalam makalah ini akan dibahas secara
rinci tentang komponen-komponen pendidikan, tujuan dan fungsi sebuah
pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja yang termasuk komponen
pendidikan?
2. Apa tujuan sebuah pendidikan?
3. Apakah fungsi pendidikan?
C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui apa saja komponen
pendidikan
2. Untuk mengetahui pentingnya komponen
pendidikan
3. Untuk mengetahui fungsi dan tujuan
pendidikan
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Komponen Pendidikan
Pendidikan adalah hal yang paling
penting dalam kehidupan bangsa dan negara, karena dengan adanya pendidikan
masyarakat bisa belajar dan memahami ilmu pengetahuan baik teoritis maupun
praktis. Pendidikan juga merupakan jembatan untuk tercapainya tujuan Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-undang Dasar
1945 yaitu “ mencerdaskan kehidupan bangsa“. Pendidikan adalah sebuah sistem,
sehingga sistem pendidikan itu tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya
komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuk pendidikan itu sendiri. Adapun
komponen-komponen pendidikan diantaranya peserta didik, pendidik, lingkungan
pendidikan dan alat pendidikan.
1. Pendidik
Pendidik
dalam pedagogis mempunyai dua arti. Yang pertama secara adi kodrati, pendidik
adalah orang tua peserta didik masing-masing. Orang tua yang berperan sebagai
pendidik akan berperan sebaik mungkin dengan segala keterbatasannya untuk
mengarahkan anaknya.
Yang kedua pendidik sebagai seseorang yang memberi pendidikan
kepada peserta didik di lembaga pendidikan formal atau kita sering menyebutnya
guru.
Orang yang bisa menjadi pendidik adalah orang dewasa. Orang dewasa
dianggap bisa menjadi pendidik kepada orang yang lebih muda umurnya, karena
pemikiran orang dewasa biasanya lebih luas, sehingga memungkinkan untuk
membimbing orang yang dibawah umurnya dan mampu membawa peserta didik ke arah
kedewasaan.
Orang tua adalah orang pertama yang telah mendidik dan mengajar
kita sejak kita dilahirkan. Orang tua selalu mendidik anaknya semaksimal
mungkin untuk membuat anaknya menjadi orang yang pandai dan cerdas. Selain
orang tua pendidik juga dapat berasal dari masyarakat yaitu dalam pendidikan
nonformal, misalnya kursus.
2
Seorang
pendidik harus mempunyai sifat-sifat, watak dan perilaku dibawah ini :
1.
Adil
Sebagai seorang guru sebaiknya harus berusaha bersikap adil
terhadap peserta didiknya. Tidak membedakan anak saudara, anak yang cantik,
anak pejabat atau anak kesayangan tetap saja semua anak harus mendapat
bimbingan dan pengajaran yang sama dari gurunya.
2.
Percaya
dan menyukai anak didiknya
Seorang guru harus berprasangka baik terhadap anak didiknya dan
percaya bahwa anak didiknya memiliki kemauan dan kemampuan. Seorang ahli (Jan
Lighthart) pernah berkata “ semua pendidikan haruslah didasatkan pada keyakinan
bahwa anak itu mempunyai kata hati. Jika keyakinan itu tidak ada, tak perlulah
orang mendidik. Orang lemah dapat dijadikan kuat, orang bodoh dapat dijadikan
pandai, tetapi orang yang tidak punya kata hati tak mungkin diperbaiki.
3.
Sabar
dan rela berkorban
Setiap pekerjaan pasti ada cobaan didalamnya terutama bagi
pendidik. Seorang pendidik harus sabar dalam menghadapi siswanya.
4.
Meiliki
kewibawaan (gezag)
Kewibawaan merupakan suatu pancaran batin yang dapat menimbulkan
kepada pihak lain untuk mengakui, menerima dengan penuh pengertian atas suatu
kekuasaan. Tanpa adanya gezag tidak mungkin sebuah pendidikan masuk ke dalam
hati peserta didik, mereka akan menuruti perintah hanya karena takut, bukan
karena kesadaran dari dalam dirinya.
Menurut M. J. Langeveld ada 3 sendi kewibawaan yang harus dibina
yaitu : kepercayaan, kasih saying dan kemampuan.
5.
Penggembira
Seorang pendidik yang baik adalah yang bisa memberi kesempatan
tertawa kepada anak didiknya. Sifat humor sebaiknya dimiliki oleh seorang
pandidik agar peserta didiknya tidak jenuh dan lelah. Humor juga berfungsi
untuk mendekatkan guru dengan muridnya.
3
6.
Bersikap
baik kepada orang lain
Seorang akan diterima dan dipercaya sebagai pendidik jika perilaku
terhadap masyarakat baik.
7.
Menguasai
mata pelajaran dan berpengetahuan luas
Guru harus selalu menambah pengetahuannya karena mengajar tidak
dapat lepas dari belajar. Pengetahuan guru harus selalu bertambah seiring
berkembangnya zaman, karena hal ini sangat diperlukan oleh murid-murid.
Sifat-sifat
diatas sebaiknya dimiliki oleh seorang pendidik, karena pendidik adalah contoh
bagi murid-muridnya yang kemudian dapat diajarkan dan ditanamkan kepada mereka.
Pendidikan sangat bergantung kepada pendidiknya, karena semakin tinggi kualitas
pendidik semakin tinggi pula kualitas pendidikan.
2. Peserta didik
Peserta
didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri
melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis
pendidikan tertentu.
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern
cenderung berpendapat demikian karena sebjek didik bersifat tidak pandang usia.
Ciri khas peserta didik yang perlu
dipahami oleh pendidik adalah :
1.
Individu
(manusia seutuhnya) yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga
merupakan insan yang unik.
Individu disini diatrtikan sebagai orang yang tidak bergantung pada
orang lain dan menentukan diri sendiri, tidak dipaksa orang lain serta
mempunyai sifat dan keinginan sendiri. Dalam hal ini pendidik tetap memegang
peranan, tidak selalu membenarkan tindakan peserta didik, melainkan tetap
membantu, memberi pertolongan melayani sesuai eksistensinya agar menuju
perkembangan yang dewasa sesuai dengan norma yang berlaku.
2.
Individu
yang sedang berkembang
Berkembang disini dimaksudkan sebagai perubahan yang terjadi dalam
diri peserta didik secara wajar, baik ditujukan kepada diri sendiri maupun ke
arah penyesuaian dengan lingkungan.
4
Manusia berkembang melalui suatu rangkaian yang bertingkat-tingkat.
Tiap fase berbeda dengan fase lainnya. Perbedaan ini
meliputi perbedaan minat, kebutuhan, kegemaran, emosi intelegensi dan sebagainya.
Perbedaan tersebut harus diketahui oleh pendidik pada masing-masing tingkat
perkembangan. Atas dasar itu pendidikan dapat mengatur kondisi dan strategi
yang relevan dengan kebututhan peserta didik.
3.
Individu
yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi
Dalam perkembangannya , peserta didik membutuhkan bantuan dan
bimbingan. Bayi yang baru lahir secara badani dan hayati tidak bisa terlepas
dari ibunya. Seharusnya setelah dewasa ia sudah bisa hidup sendiri, tetapi
kenyataannya untuk kebutuhan perkembangan hidupnya ia masih membutuhkan bimbingan
orang lain. Disinilah fungsi pendidik harus diaktualisasikan.
4.
Individu
yang memiliki kemampuan untuk mandiri
Dalam perkembangannya peserta didik mempunyai kemampuan berkembang
ke arah kedewasaan. Karena itu peserta didik membutuhkan sebuah pendidikan agar
mereka memperoleh kebebasan untuk memerdekakan diri dan mampu menjadi manusia
mandiri.
3. Lingkungan pendidikan
Manusia dapat
mengembangkan kemampuan melalui sebuah pengalaman. Pengalaman itu terjadi
karena interaksi manusia dengan lingkungannya, naik lingkungan fisik maupun
lingkungan social manusia secara efisien dan efektif. Lingkungan tempat
berlangsungnya pendidikan disebut dengan lingkungan pendidikan. Ada tiga
lingkungan utama pendidikan, yaitu keluarga sekolah dan masyarakat (Umar
Tirtaharja et. Al.,1990:39-40).
Sepanjang hidupnya manusia akan selalu menerima
pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama, yaitu keluarga, sekolah
dan masyarakat, dan ketiganya disebut tripusat pendidikan.
5
1)
Keluarga
Keluarga merupakan kelompok primer yang sedikit anggotanya karena
hubungan sedarah. Keluarga itu dapat terdiri dari keluarga inti (nucleus family) yang terdiri dari ayah,
ibu dan anak. Kemudian ada juga keluarga yang terdiri dari ayah ibu, anak, kakek,
nenek, paman dll. Meskipun ibu adalah anggota keluarga yang paling berpengaruh
terhadap tumbuh kembang anak, namun pada akhirnya semua anggota keluarga dan
situasi keluarga ikut berpengaruh dalam
pendidikan anak. Keluarga berperan baik pada aspek pembudayaan maupun
penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Namun karena meningkatnya kebutuhan
aspirasi anak, umumnya keluarga tidak mampu memenuhinya. Sehingga tujuan
pendidikan itu sebagian dapat dicapai melalui jalur pendidikan sekolah atau
jalur pendidikan luar sekolah yang dianggap semakin penting.
Dalam UU RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas yang menegaskan
fungsi dan peranan keluarga dalam mencapai tujuan pendidikan yakni membangun
manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan
dalam keluarga dan yang memeberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral
dan keterampilan yang mendukung kehidupan yang bersangkutan (Pasal 10 ayat 4).
Menurut Ki Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan
senaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual maupun pendidikan sosial.
Keluarga bersifat dan berwujud sempurna untuk melangsungkan pendidikan kearah
pribadi yang utuh, tidak saja bagi anak-anak, tetapi juga bagi remaja. Peran
orang tua dalam keluarga adalah sebagai penuntun pengajar dan pemberi contoh.
Mereka senantiasa melakukan usaha yang terbaik untuk kemajuan anak-anaknya.
Manusia memang mempunyai naluri pedagogis, yang berarti bahwa perilaku pendidikan merupakan akibat naluri untuk melanjutkan
keturunan (Ki Hajar Dewantara,1962: dari Wayan Ardhana,1986: modul 4/5-6).
6
Di lingkungan keluarga anak-anak bisa turut serta mengerjakan
pekerjaan dalam keluarga dengan sendirinya. Mereka mempraktekan bermacam-macam
kegiatan yang sangat berfaedah bagi pendidikan sosial, watak dan budi pekerti
seperti kejujuran, keberanian, ketenangan, kebenaran, hidup hemat menghargai
dan sebagainya. Decroly penah mengatakan 70 % dari anak-anak yang jatuh dalam
jurang kejahatan berasal dari keluarga yang rusak kehidupannya. Oleh karena itu
untuk perbaikan dalam masyarakat perlua adanya perbaikan dalam keluarganya.
Pendidikan di keluarga berperan penting dalam proses pendidikan
anak di sekolah atau di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya
keikutsertaan keluarga pada tahap perencanaan, pemantauan dalam pelaksanaan
evaluasi dan pengembangan pendidikan.
2)
Sekolah
Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan
pendidikan secara sistematis, berencana, sengaja dan terarah. Karena
berkembangnya zaman keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan
aspirasi generasi muda terhadap IPTEK sendirian. Semakin maju suatu masyarakat,
semakin penting peranan sekolah dalam memepersiapkan generasi muda sebelum
masuk dalam proses pembangungan masyarakat itu. Sekolah harus diupayakan
sedemikian rupa agar mencerminkan suatu masyarakat Indonesia di masa depan,
sehingga peserta didik mampu menyiapkan diri untuk melaksanakan perannya.
Sekolah sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan
masyarakat yang maju karena pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi secara
optimal, tetapi tetap berpijak pada ciri keindonesiaan. Dengan demikian,
pendidikan di sekolah harus seimbang dan serasi menjamah aspek pembudayaan,
penguasaan pengetahuan dan pemilikan keterampilan peserta didik.
7
Alternatif yang mmungkin dilakukan sesuai dengan kondisi dan
situasi sekolah, antara lain :
a.
Pengajaran
yang mendidik
b.
Peningkatan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan
(BP)
c.
Pengembangan
perpustakaan sekolah
d.
Peningkatan
dan pemantapan program pengelolaan sekolah
Sekolah dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a.
Taman
Kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA)
Pelaksanaan pembelajaran di tingkat ini diintegrasikan dalam bidang
pengembangan moral, budi pekerti, nilai-nilai agama, pengembangan emosi dan
pengembangan kemampuan dasar melalui pendidikan bahasa, kognisi dan fisik.
b.
Sekolah
Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Penyelenggaraan pendidikan di tingkat SD adalah untuk menghasilkan
lulusan yang memiliki dasar-dasar karakter, kecakapan,
keterampilan dan pengetahuan yang memadai untuk mengembangkan potensi diri
secara optima, sehingga siswa memiliki keberhasilan dalam pendidikan lanjutan.
c.
Sekolah
menengah
Sekolah menengah terdiri dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau
Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah
(MA). Penyelenggaraan sekolah ini ditujukan untukmenghasilkan lulusan yang
memiliki kecakapan, karakter dan keterampilan yang kuat untuk mengadakan
hubungan timbal balik dengan lingungan social, budaya dan alam sekitar.
3)
Mayarakat
Secara umum masyarakat adalah sekumpulan manusia laki-laki dan
perempuan yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi dengan
sesame untuk mencapai tujuan.
8
Dalam konsep pendidikan adalah masyarakat diartikan sebagai
sekumpulam orang dengan berbagai ragam kualitas diri dari yang tidak
berpendidikan sampai yang berpendidikan tinggi. Baik buruknya kualitas
masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan anggotany, sehingga semakin baik
pendidikan anggotanya, semakin baik pula kualitas masyarakat secara
keseluruhan. Kaitan antara masyarakat dan
pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi, yaitu :
a.
Masyarakat
sebagai penyelenggara pendidikan.
b.
Lembaga-lembaga
kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung atau tidak
langsung ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
c.
Dalam
masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang maupun yang
dimanfaatkan. Manusia selalu mendidik dirinya dendiri dengan memanfaatkan
sumber-sumber belajar yang tersedia di masyarakatnya dalam bekerja, bergaul dan
sebagainya.
Dalam pendidikan ketiga hal tersebut hanya dapat dibedakan, namun
sulit dipisahkan. Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangan tergantung
pada taraf perkembangan masyarakat dan sumber-sumber belajar yang tersedia di
dalamnya.
Di dalam lingkungan masyarakat biasanya terdapat sejumlah lembaga
kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial yang mempunyai peran dan fungsi
edukatif yang besar antara lain teman sebaya dan organisasi kepemudaan,
organissasi keagamaan, organisasi ekonomi, organisasi politik, organisasi
kebudayaan dan sebagainya.
Setelah keluarga, kelompok sebaya (peer group) menjadi pengaruh terhadap perkembangan dan kepribadian
anak, karena pada saat itu anak berusaha melepaskan diri dari pengaruh
kekuasaan orang tua. Dampak edukatif dari peer
group adalah anak dapa tberkomunikasi menyesuaikan diri dengan orang lain
sehingga pengetahuan menjadi bertambah serta memperluas cakrawala pengalaman
anak, sehingga menjadi orang yang lebih kompleks.
9
Kemudian organisasi kepemudaan juga mempunyai pengaruh penting
dalam pendidikan, terutama sangat bermanfaat dalam membantu proses sosialisasi
serta mengembangkan aspek afektif dari kepribadian, seperti kejujuran,
disiplin, tangggung jawab dan kemandirian.
Selain teman sebaya dan organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan
juga mempunyai peran yang sangat penting karena berkaitan dengan pendidikan
keyakinan terhadap Tuhan. Biasanya organisasi keagamaan menyediakan beberapa
program, seperti mengajarkan keyakinan serta praktek-praktek keagamaan dengan
cara memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi masyarakat dan mengajarkan
kepada mereka tentang tingkah laku dan prinsip-prinsip moral sesuai keyakinan
agamanya.
4. Alat dan Metode Pendidikan
Alat
dan metode pendidikan bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat
jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat dalam
pendidikan diartikan sebagai usaha-usaha atau perbuatan-perbuatan si pendidik
yang ditujukan untuk melaksanakan tugas mendidik dan juga sebagai
langkah-langkah yang membantu pencapaian tujuan pendidikan. Contoh alat
pendidikan diantaranya melarang, memberi anjuran, menasihati, menghukum, dll.
Pendidik yang menggunakan alat-alat pendidikan harus bisa menyesuaikan dengan
tujuan yang terkandung dalam alat itu. Untuk memilih alat pendidikan yang baik
dan sesuai, harus memperhatikan empat syarat berikut:
a.
Tujuan
apakah yang hendak dicapai dengan alat itu
b.
Siapa
yang menggunakan alat itu
c.
Anak
yang mana yang dikenai alat itu
d.
Bagaimana
menggunakan alat itu
e.
Bagaimana
situasi dan kondidi saat menggunakan alat tersebut
Abu Ahmadi (2006:38) membedakan alat pendidikan menjadi beberapa
kaegori, sebagi berikut:
10
a.
Alat
pendidikan positif dan negatif
Alat
pendidikan positif dimaksudkan sebagai alat yang ditujukan agar anak
mengerjakan sesuatu yang baik,misalnya pujian agar anak mengulang pekerjaan
yang menurut ukuran adalah baik. Alat pendidikan negatif dimaksudkan agar anak
tidak mengerjakan sesuatu yang buruk, misalnya larangan atau hukuman agar anak
agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menurut norma adalah buruk
b.
Alat
pendidikan preventif dan kuratif
Alat
pendidikan preventif adalah alat yang bermaksud mencegah terjadinya hal-hal
yang tidak dikehendaki, contohnya larangan, peringatan dan pembiasan. Alat
pendidikan kuratif/ korektif adalah alat untuk memperbaiki kesalahan, misalnya nasihat
dan hukuman
c.
Alat
pendidikan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
Alat pendidikan
yang menyenangkan adalah alat yang digunakan agar peseerta didik menjadi
senang, misalnya hadiah dan ganjaran. Alat pendidikan yang tidak menyenangkan
adalah alat yang membuat peserta didik merasa tidak senang dan tidak nyaman
melakukan sesuatu, misalnya hukuman dan celaan.
Dari pemaparan
diatas ada alat-alat pendidikan yang sangat penting yang akan dibahas
diantaranya:
1.
Pembiasaan
Pembiasaan
adalah salah satu alat yang paling penting dalam pendidikan, terutama bagi
anak-anak yang masih kecil. Pembiasaan yang baik penting artiya bagi
pembentukan watak anak-anak dan juga berpengaruh kepada anak itu sampai hari
tuanya. Oleh karena itu sangat baik menanamkan kebiasaan baik pada waktu
anak-anak.
2.
Pengawasan
Untuk menimbulkan pembiasaan yang baik maka membutuhkan sebuah
pengawasan. Pengawasan sangat penting dalam mendidik anak-anak, tanpa
pengawasan berarti membiarkan anak berbuat sekehendaknya.
11
Anak yang dibiarkan tumbuh sendiri menurut alamnya akan menjadi manusia
yang hidup menurut nafsunya saja. Kemungkinan besar anak itu menjadi tidak
patuh dan tidak mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya.
Pengawasan harus dilakukan walaupun
berangsur-angsur anak harus diberi kebebasan.
Namun bukanlah kebebasan yang dijadikan pangkal atau permulaan
pendidikan, melainkan kebebasan itu yang hendak diperoleh pada akhirnya.
3.
Perintah
Perintah bukan hanya apa yang keluar dari mulut seseorang yang
harus dikerjakan oleh orang lain, melainkan dalam hal ini termasuk pula
peraturan-peraturan umum yang mengandung norma yang harus ditaati oleh peserta
didik.
Perintah ini dikatakan berhasil jika anak-anak menuruti perintah
tersebut. Supaya sebuah perintah dapat ditaati oleh peserta didiknya, hendaknya
memenuhi syarat-syarat sebuah perintah sebagai berikut :
a.
Sebuah
perintah harus dikatakan dengan terang dan singkat sehingga mudah difahami anak
b.
Perintah
disesuaikan dengan umur dan kemampuan anak
c.
Kadang
perlu untuk mengubah sebuah perintah menjadi sebuah permintaan, biasanya
dilakukan bagi anak yang sudah besar
d.
Tidak
terlalu banyak dan berlebih-lebihan dalam memberi perintah
e.
Konsekuen
terhadap perintah
f.
Perintah
sebaiknya bersifat mengajak, maksudnya si pendidik juga harus turut melakukan
4.
Larangan
Larangan biasanya dilakukan jika anak melakukan sesuatu yang
merugikan atau dapat membahayakan dirinya. Namun larangan yang terlalu sering
kepada anak juga dapat menghambat perkembangan jasmani dan rohaninya, contohnya
larangan bermain dengan teman-temannya.
Maka dari itu pendidik diharapkan tidak terlalu banyak melarang
anak melakukan suatu perbuatan.
12
Bagi anak-anak yang masih kecil , sering lebih berhasil jika
mengubah larangan tersebut menjadi sebuah perintah atau membelokan perhatian
anak pada sesuatu yang lain yang menarik minatnya.
5.
Ganjaran
Ganjaran adalah salah satu alat untuk mendidik anak supaya anak
merasa senang atas perbuatannya dan akan melakukannya lagi. Beberapa contoh
ganjaran:
a.
Mengangguk-angguk
tanda senang dan membenarkan apa yang dijawab atau dilakukan si anak
b.
Guru
memberikan kata-kata pujian
c.
Ganjaran
dapat pula berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak.
6.
Hukuman
Hukuman adalah alat pendidikan yang tidak menyenangkan berupa
penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh pendidik kepada
peserta didik setelah terjadinya suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan.
Sebagai alat pendidikan, hukuman hendaklah:
a.
Senantiasa
merupakan jawaban atas suatu pelanggaran
b.
Sedikit
banyaknya harus bersifat tidak menyenangkan
c.
Selalu
bertujuan kea rah perbaikan da dilakukan untuk kepentingan anak itu sendiri.
d.
Harus
disesuaikan dengan kepribadian si anak
e.
Pendidik
sanggup memberi maaf setelah hukuman selesai dijalankan
B. Fungsi dan Tujuan Pendidikan
Fungsi utama pendidikan adalah
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak kepribadian serta peradaban yang
bermartabat dalam hidup dan kehidupan atau pendidikan berfungsi memanusiakan
manusia agar menjadi manusia yang benar sesuai norma.
13
Menurut Langeveld, tujuan pendidikan
ada enam macam, yaitu:
a.
Tujuan
umum
Tujuan
ini disebut juga tujuan total, tujuan yang sempurna atau tujuan akhir. Dalam
hal ini Kohnstam dan Gunning mengatakan bahwa tujuan akhir dari pendidikan
adalah untk membentuk insan kamil atau manusia sempurna. Manusia sempurna
adalah manusia yang memiliki tiga hakikat manusia yaitu, sebagai makhluk
individu, makhluk social dan makhluk susila
b.
Tujuan
khusus
Untuk
menuju tujuan umum , perlu adanya pengkhususan tujuan yang disesuaikan dengan
situasi tertentu yang hendak dicapai berdasar usia, jenis kelamin, sifat,
lingkungan bakat, intelegensi dll.
c.
Tujuan
tak lengkap
Adalah
tujuan yang menyangkut sebagian aspek manusia misalnya tujuan khusus
pembentukan kecerdasan saja tanpa memperhatikan yang lainnya.
d.
Tujuan
insidentil (sesaat)
Tujuan
seperti ini timbul secara mendadak dan hanya bersifat sesaat, misalnya tuuan
untuk mengadakan hiburan maka diadakan kegiatan darmawisata.
e.
Tujuan
sementara
Tujuan
sementara adalah tujuan yang ingin dicapai dalam fase-fase tertentu pendidikan.
Misalnya anak dimasukan ke sekolah, tujuannya adalah agar anak dapat membaca
dan menulis
f.
Tujuan
intimedier (perantara)
Tujuan
ini merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang lain. Misalnya
kita belajar bahasa inggris atau belanda untuk mempelajari buku-buku tertulis
dalam bahsa Inggris.
Tujuan
pendidikan dalam perspektif islam adalah untuk memberikan bantuan kepada
manusia yang belum dewasa agar cakap menyelesaikan tugas hidupnya yang diridoi
Allah SWT, terjalinnlah kebahagiaan dunia dan akhirat atas kuasanya sendiri
(Drs. Abd Rahman Sholeh)
14
BAB III
PENUTUP
Pendidikan adalah hal yang sangat
penting untuk menjadikan manusia sebagai manusia yang seutuhnya. Pendidikan
tidak dapat berdiri sendiri, karenanya pendidikan membutuhkan komponen-komponen
pendidikan diantaranya peserta didik, pendidik, alat pendidikan, lingkungan
pendidikan dan alat pendidikan. Komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan, karena tanpa adanya komponen tersebut maka tujuan
pendidikan tidak akan tercapai.
Tujuan pendidikan diantaranya tujuan umum,
tujuan khusus, tujaun tak lengkap, tujuan insidentil, tujuan sementara dan
tujuan perantara. Dalam perspektif islam tujuan pendidikan adalah untuk
menjadikan manusia cakap dalam menjalani kehidupan untuk akhirat dan untuk
mencari keridhoan Allah.
15
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi, Drs. Dan Nur Ubiayati.2001.Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Purwanto, Ngalim.1994.Ilmu
Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung:Remaja Roda Karya
Umar, T. dan S. La Sulo.2005.Pengantar
Pendidikan. Jakarta: Runeka Cipta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar