Blogger Widgets

Sabtu, 12 April 2014

Makalah Komponen Pendidikan



MAKALAH
KOMPONEN, FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Pendidikan
Dosen Pengampu:
Kiswan, S.Ag. M.Pd.


Di Susun Oleh :
Annisa Aulia



FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYYAH (PGMI)
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID)
CIAMIS JAWA BARAT 2013/2014
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini. Meskipun penyusunan makalah ini belum sempurna tetapi penulis berusaha untuk menghasilkan yang terbaik. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Dasar-dasar Pendidikan’’ dengan materi pembahasan yang saya pilih adalah tentang “Komponen, Fungsi dan Tujuan Pendidikan’’.
Makalah ini kami susun dengan tujuan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester untuk membantu dosen menyiapakan perangkat alat penilaian, baik yang digunakan sebagai penilaian proses belajar, maupun untuk penilaian hasil belajar. Selain itu makalah ini diharapkan ikut membantu pembaca untuk lebih memhami dan mendalami kajian teoritis pada buku sumber dan penunjang yang digunakan sehingga dapat terlatih serta mampu berpikir kritis, analitis dan sistematis.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT membalas dengan limpahan karunia dan inayah-Nya dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat.



Ciamis, Desember 2013

Penyusun


















BAB I

PENDAHULUAN


A.                Latar Belakang

Pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini, tanpa adanya pendidikan manusia akan bertindak semaunya tanpa tahu aturan. Pendidikan adalah sebuah sistem. Sebuah sistem terdiri dari beberapa komponen, tanpa adanya gabungan dari beberapa komponen, sistem tersebut tidak akan bisa berdiri dan tidak akan bisa mencapai tujuannya. Sama dengan sistem pendidikan, pendidikan tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuk pendidikan itu sendiri. Komponen pendidikan tersebut harus ada dalam sebuah pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika tujuan pendidikan sudah tercapai, maka pendidikan akan berfungsi sebagaimana mestinya.
Dari uraian tersebut, dapat difahami bahwa komponen pendidikan itu penting untuk diketahui agar dapat mencapai tujuan pendidikan dan agar pendidikan itu berfungsi dengan baik. Dalam makalah ini akan dibahas secara rinci tentang komponen-komponen pendidikan, tujuan dan fungsi sebuah pendidikan.

B.                 Rumusan Masalah

1.      Apa saja yang termasuk komponen pendidikan?
2.      Apa tujuan sebuah pendidikan?
3.      Apakah fungsi pendidikan?

C.                Tujuan Makalah

1.      Untuk mengetahui apa saja komponen pendidikan
2.      Untuk mengetahui pentingnya komponen pendidikan
3.      Untuk mengetahui fungsi dan tujuan pendidikan


1

BAB II

PEMBAHASAN


A.               Komponen Pendidikan

Pendidikan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan bangsa dan negara, karena dengan adanya pendidikan masyarakat bisa belajar dan memahami ilmu pengetahuan baik teoritis maupun praktis. Pendidikan juga merupakan jembatan untuk tercapainya tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yaitu “ mencerdaskan kehidupan bangsa“. Pendidikan adalah sebuah sistem, sehingga sistem pendidikan itu tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuk pendidikan itu sendiri. Adapun komponen-komponen pendidikan diantaranya peserta didik, pendidik, lingkungan pendidikan dan alat pendidikan.

1.                  Pendidik

Pendidik dalam pedagogis mempunyai dua arti. Yang pertama secara adi kodrati, pendidik adalah orang tua peserta didik masing-masing. Orang tua yang berperan sebagai pendidik akan berperan sebaik mungkin dengan segala keterbatasannya untuk mengarahkan anaknya.
Yang kedua pendidik sebagai seseorang yang memberi pendidikan kepada peserta didik di lembaga pendidikan formal atau kita sering menyebutnya guru.
Orang yang bisa menjadi pendidik adalah orang dewasa. Orang dewasa dianggap bisa menjadi pendidik kepada orang yang lebih muda umurnya, karena pemikiran orang dewasa biasanya lebih luas, sehingga memungkinkan untuk membimbing orang yang dibawah umurnya dan mampu membawa peserta didik ke arah kedewasaan.
Orang tua adalah orang pertama yang telah mendidik dan mengajar kita sejak kita dilahirkan. Orang tua selalu mendidik anaknya semaksimal mungkin untuk membuat anaknya menjadi orang yang pandai dan cerdas. Selain orang tua pendidik juga dapat berasal dari masyarakat yaitu dalam pendidikan nonformal, misalnya kursus.

2
Seorang pendidik harus mempunyai sifat-sifat, watak dan perilaku dibawah ini :
1.      Adil
Sebagai seorang guru sebaiknya harus berusaha bersikap adil terhadap peserta didiknya. Tidak membedakan anak saudara, anak yang cantik, anak pejabat atau anak kesayangan tetap saja semua anak harus mendapat bimbingan dan pengajaran yang sama dari gurunya.
2.      Percaya dan menyukai anak didiknya
Seorang guru harus berprasangka baik terhadap anak didiknya dan percaya bahwa anak didiknya memiliki kemauan dan kemampuan. Seorang ahli (Jan Lighthart) pernah berkata “ semua pendidikan haruslah didasatkan pada keyakinan bahwa anak itu mempunyai kata hati. Jika keyakinan itu tidak ada, tak perlulah orang mendidik. Orang lemah dapat dijadikan kuat, orang bodoh dapat dijadikan pandai, tetapi orang yang tidak punya kata hati tak mungkin diperbaiki.
3.      Sabar dan rela berkorban
Setiap pekerjaan pasti ada cobaan didalamnya terutama bagi pendidik. Seorang pendidik harus sabar dalam menghadapi siswanya.
4.      Meiliki kewibawaan (gezag)
Kewibawaan merupakan suatu pancaran batin yang dapat menimbulkan kepada pihak lain untuk mengakui, menerima dengan penuh pengertian atas suatu kekuasaan. Tanpa adanya gezag tidak mungkin sebuah pendidikan masuk ke dalam hati peserta didik, mereka akan menuruti perintah hanya karena takut, bukan karena kesadaran dari dalam dirinya.
Menurut M. J. Langeveld ada 3 sendi kewibawaan yang harus dibina yaitu : kepercayaan, kasih saying dan kemampuan.
5.      Penggembira
Seorang pendidik yang baik adalah yang bisa memberi kesempatan tertawa kepada anak didiknya. Sifat humor sebaiknya dimiliki oleh seorang pandidik agar peserta didiknya tidak jenuh dan lelah. Humor juga berfungsi untuk mendekatkan guru dengan muridnya.
3
6.      Bersikap baik kepada orang lain
Seorang akan diterima dan dipercaya sebagai pendidik jika perilaku terhadap masyarakat baik.
7.      Menguasai mata pelajaran dan berpengetahuan luas
Guru harus selalu menambah pengetahuannya karena mengajar tidak dapat lepas dari belajar. Pengetahuan guru harus selalu bertambah seiring berkembangnya zaman, karena hal ini sangat diperlukan oleh murid-murid.
Sifat-sifat diatas sebaiknya dimiliki oleh seorang pendidik, karena pendidik adalah contoh bagi murid-muridnya yang kemudian dapat diajarkan dan ditanamkan kepada mereka. Pendidikan sangat bergantung kepada pendidiknya, karena semakin tinggi kualitas pendidik semakin tinggi pula kualitas pendidikan.

2.                  Peserta didik

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung berpendapat demikian karena sebjek didik bersifat tidak pandang usia.
      Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik adalah :
1.      Individu (manusia seutuhnya) yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.
Individu disini diatrtikan sebagai orang yang tidak bergantung pada orang lain dan menentukan diri sendiri, tidak dipaksa orang lain serta mempunyai sifat dan keinginan sendiri. Dalam hal ini pendidik tetap memegang peranan, tidak selalu membenarkan tindakan peserta didik, melainkan tetap membantu, memberi pertolongan melayani sesuai eksistensinya agar menuju perkembangan yang dewasa sesuai dengan norma yang berlaku.
2.      Individu yang sedang berkembang
Berkembang disini dimaksudkan sebagai perubahan yang terjadi dalam diri peserta didik secara wajar, baik ditujukan kepada diri sendiri maupun ke arah penyesuaian  dengan lingkungan.

4
Manusia berkembang melalui suatu rangkaian yang bertingkat-tingkat. Tiap fase berbeda dengan fase lainnya. Perbedaan ini meliputi perbedaan minat, kebutuhan, kegemaran, emosi intelegensi dan sebagainya. Perbedaan tersebut harus diketahui oleh pendidik pada masing-masing tingkat perkembangan. Atas dasar itu pendidikan dapat mengatur kondisi dan strategi yang relevan dengan kebututhan peserta didik.
3.      Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi
Dalam perkembangannya , peserta didik membutuhkan bantuan dan bimbingan. Bayi yang baru lahir secara badani dan hayati tidak bisa terlepas dari ibunya. Seharusnya setelah dewasa ia sudah bisa hidup sendiri, tetapi kenyataannya untuk kebutuhan perkembangan hidupnya ia masih membutuhkan bimbingan orang lain. Disinilah fungsi pendidik harus diaktualisasikan.
4.      Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri
Dalam perkembangannya peserta didik mempunyai kemampuan berkembang ke arah kedewasaan. Karena itu peserta didik membutuhkan sebuah pendidikan agar mereka memperoleh kebebasan untuk memerdekakan diri dan mampu menjadi manusia mandiri.

3.                  Lingkungan pendidikan

Manusia dapat mengembangkan kemampuan melalui sebuah pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya, naik lingkungan fisik maupun lingkungan social manusia secara efisien dan efektif. Lingkungan tempat berlangsungnya pendidikan disebut dengan lingkungan pendidikan. Ada tiga lingkungan utama pendidikan, yaitu keluarga sekolah dan masyarakat (Umar Tirtaharja et. Al.,1990:39-40).
      Sepanjang hidupnya manusia akan selalu menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat, dan ketiganya disebut tripusat pendidikan.



5
1)      Keluarga
Keluarga merupakan kelompok primer yang sedikit anggotanya karena hubungan sedarah. Keluarga itu dapat terdiri dari keluarga inti (nucleus family) yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Kemudian ada juga keluarga yang terdiri dari ayah ibu, anak, kakek, nenek, paman dll. Meskipun ibu adalah anggota keluarga yang paling berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, namun pada akhirnya semua anggota keluarga dan situasi keluarga  ikut berpengaruh dalam pendidikan anak. Keluarga berperan baik pada aspek pembudayaan maupun penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Namun karena meningkatnya kebutuhan aspirasi anak, umumnya keluarga tidak mampu memenuhinya. Sehingga tujuan pendidikan itu sebagian dapat dicapai melalui jalur pendidikan sekolah atau jalur pendidikan luar sekolah yang dianggap semakin penting.
Dalam UU RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas yang menegaskan fungsi dan peranan keluarga dalam mencapai tujuan pendidikan yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur  pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memeberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan yang mendukung kehidupan yang bersangkutan (Pasal 10 ayat 4).
Menurut Ki Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan senaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual maupun pendidikan sosial. Keluarga bersifat dan berwujud sempurna untuk melangsungkan pendidikan kearah pribadi yang utuh, tidak saja bagi anak-anak, tetapi juga bagi remaja. Peran orang tua dalam keluarga adalah sebagai penuntun pengajar dan pemberi contoh. Mereka senantiasa melakukan usaha yang terbaik untuk kemajuan anak-anaknya. Manusia memang mempunyai naluri pedagogis, yang berarti bahwa perilaku pendidikan  merupakan akibat naluri untuk melanjutkan keturunan (Ki Hajar Dewantara,1962: dari Wayan Ardhana,1986: modul 4/5-6).



6
Di lingkungan keluarga anak-anak bisa turut serta mengerjakan pekerjaan dalam keluarga dengan sendirinya. Mereka mempraktekan bermacam-macam kegiatan yang sangat berfaedah bagi pendidikan sosial, watak dan budi pekerti seperti kejujuran, keberanian, ketenangan, kebenaran, hidup hemat menghargai dan sebagainya. Decroly penah mengatakan 70 % dari anak-anak yang jatuh dalam jurang kejahatan berasal dari keluarga yang rusak kehidupannya. Oleh karena itu untuk perbaikan dalam masyarakat perlua adanya perbaikan dalam keluarganya.
Pendidikan di keluarga berperan penting dalam proses pendidikan anak di sekolah atau di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya keikutsertaan keluarga pada tahap perencanaan, pemantauan dalam pelaksanaan evaluasi dan pengembangan pendidikan.
2)      Sekolah
Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan secara sistematis, berencana, sengaja dan terarah. Karena berkembangnya zaman keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi generasi muda terhadap IPTEK sendirian. Semakin maju suatu masyarakat, semakin penting peranan sekolah dalam memepersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangungan masyarakat itu. Sekolah harus diupayakan sedemikian rupa agar mencerminkan suatu masyarakat Indonesia di masa depan, sehingga peserta didik mampu menyiapkan diri untuk melaksanakan perannya.
Sekolah sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan masyarakat yang maju karena pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi secara optimal, tetapi tetap berpijak pada ciri keindonesiaan. Dengan demikian, pendidikan di sekolah harus seimbang dan serasi menjamah aspek pembudayaan, penguasaan pengetahuan dan pemilikan keterampilan peserta didik.




7
Alternatif yang mmungkin dilakukan sesuai dengan kondisi dan situasi sekolah, antara lain :
a.       Pengajaran yang mendidik
b.       Peningkatan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan (BP)
c.       Pengembangan perpustakaan sekolah
d.      Peningkatan dan pemantapan program pengelolaan sekolah
Sekolah dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a.       Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA)
Pelaksanaan pembelajaran di tingkat ini diintegrasikan dalam bidang pengembangan moral, budi pekerti, nilai-nilai agama, pengembangan emosi dan pengembangan kemampuan dasar melalui pendidikan bahasa, kognisi dan fisik.
b.      Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Penyelenggaraan pendidikan di tingkat SD adalah untuk menghasilkan lulusan yang memiliki dasar-dasar karakter, kecakapan, keterampilan dan pengetahuan yang memadai untuk mengembangkan potensi diri secara optima, sehingga siswa memiliki keberhasilan dalam pendidikan lanjutan.
c.       Sekolah menengah
Sekolah menengah terdiri dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA). Penyelenggaraan sekolah ini ditujukan untukmenghasilkan lulusan yang memiliki kecakapan, karakter dan keterampilan yang kuat untuk mengadakan hubungan timbal balik dengan lingungan social, budaya dan alam sekitar.
3)      Mayarakat
Secara umum masyarakat adalah sekumpulan manusia laki-laki dan perempuan yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi dengan sesame untuk mencapai tujuan.


8
Dalam konsep pendidikan adalah masyarakat diartikan sebagai sekumpulam orang dengan berbagai ragam kualitas diri dari yang tidak berpendidikan sampai yang berpendidikan tinggi. Baik buruknya kualitas masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan anggotany, sehingga semakin baik pendidikan anggotanya, semakin baik pula kualitas masyarakat secara keseluruhan. Kaitan antara masyarakat dan  pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi, yaitu :
a.       Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan.
b.      Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung atau tidak langsung ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
c.       Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan. Manusia selalu mendidik dirinya dendiri dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia di masyarakatnya dalam bekerja, bergaul dan sebagainya.
Dalam pendidikan ketiga hal tersebut hanya dapat dibedakan, namun sulit dipisahkan. Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangan tergantung pada taraf perkembangan masyarakat dan sumber-sumber belajar yang tersedia di dalamnya.
Di dalam lingkungan masyarakat biasanya terdapat sejumlah lembaga kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial yang mempunyai peran dan fungsi edukatif yang besar antara lain teman sebaya dan organisasi kepemudaan, organissasi keagamaan, organisasi ekonomi, organisasi politik, organisasi kebudayaan dan sebagainya.
Setelah keluarga, kelompok sebaya (peer group) menjadi pengaruh terhadap perkembangan dan kepribadian anak, karena pada saat itu anak berusaha melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan orang tua. Dampak edukatif dari peer group adalah anak dapa tberkomunikasi menyesuaikan diri dengan orang lain sehingga pengetahuan menjadi bertambah serta memperluas cakrawala pengalaman anak, sehingga menjadi orang yang lebih kompleks.


9
Kemudian organisasi kepemudaan juga mempunyai pengaruh penting dalam pendidikan, terutama sangat bermanfaat dalam membantu proses sosialisasi serta mengembangkan aspek afektif dari kepribadian, seperti kejujuran, disiplin, tangggung jawab dan kemandirian.
Selain teman sebaya dan organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan juga mempunyai peran yang sangat penting karena berkaitan dengan pendidikan keyakinan terhadap Tuhan. Biasanya organisasi keagamaan menyediakan beberapa program, seperti mengajarkan keyakinan serta praktek-praktek keagamaan dengan cara memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi masyarakat dan mengajarkan kepada mereka tentang tingkah laku dan prinsip-prinsip moral sesuai keyakinan agamanya.

4.                  Alat dan Metode Pendidikan

Alat dan metode pendidikan bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat dalam pendidikan diartikan sebagai usaha-usaha atau perbuatan-perbuatan si pendidik yang ditujukan untuk melaksanakan tugas mendidik dan juga sebagai langkah-langkah yang membantu pencapaian tujuan pendidikan. Contoh alat pendidikan diantaranya melarang, memberi anjuran, menasihati, menghukum, dll. Pendidik yang menggunakan alat-alat pendidikan harus bisa menyesuaikan dengan tujuan yang terkandung dalam alat itu. Untuk memilih alat pendidikan yang baik dan sesuai, harus memperhatikan empat syarat berikut:
a.       Tujuan apakah yang hendak dicapai dengan alat itu
b.      Siapa yang menggunakan alat itu
c.       Anak yang mana yang dikenai alat itu
d.      Bagaimana menggunakan alat itu
e.       Bagaimana situasi dan kondidi saat menggunakan alat tersebut
Abu Ahmadi (2006:38) membedakan alat pendidikan menjadi beberapa kaegori, sebagi berikut:


10
a.       Alat pendidikan positif dan negatif
Alat pendidikan positif dimaksudkan sebagai alat yang ditujukan agar anak mengerjakan sesuatu yang baik,misalnya pujian agar anak mengulang pekerjaan yang menurut ukuran adalah baik. Alat pendidikan negatif dimaksudkan agar anak tidak mengerjakan sesuatu yang buruk, misalnya larangan atau hukuman agar anak agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menurut norma adalah buruk
b.      Alat pendidikan preventif dan kuratif
Alat pendidikan preventif adalah alat yang bermaksud mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki, contohnya larangan, peringatan dan pembiasan. Alat pendidikan kuratif/ korektif adalah alat untuk memperbaiki kesalahan, misalnya nasihat dan hukuman
c.       Alat pendidikan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
Alat pendidikan yang menyenangkan adalah alat yang digunakan agar peseerta didik menjadi senang, misalnya hadiah dan ganjaran. Alat pendidikan yang tidak menyenangkan adalah alat yang membuat peserta didik merasa tidak senang dan tidak nyaman melakukan sesuatu, misalnya hukuman dan celaan.
Dari pemaparan diatas ada alat-alat pendidikan yang sangat penting yang akan dibahas diantaranya:
1.      Pembiasaan
Pembiasaan adalah salah satu alat yang paling penting dalam pendidikan, terutama bagi anak-anak yang masih kecil. Pembiasaan yang baik penting artiya bagi pembentukan watak anak-anak dan juga berpengaruh kepada anak itu sampai hari tuanya. Oleh karena itu sangat baik menanamkan kebiasaan baik pada waktu anak-anak.
2.      Pengawasan
Untuk menimbulkan pembiasaan yang baik maka membutuhkan sebuah pengawasan. Pengawasan sangat penting dalam mendidik anak-anak, tanpa pengawasan berarti membiarkan anak berbuat sekehendaknya.


11
Anak yang dibiarkan tumbuh sendiri menurut alamnya akan menjadi manusia yang hidup menurut nafsunya saja. Kemungkinan besar anak itu menjadi tidak patuh dan tidak mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya.
      Pengawasan harus dilakukan walaupun berangsur-angsur anak harus diberi kebebasan.  Namun bukanlah kebebasan yang dijadikan pangkal atau permulaan pendidikan, melainkan kebebasan itu yang hendak diperoleh pada akhirnya.
3.      Perintah
Perintah bukan hanya apa yang keluar dari mulut seseorang yang harus dikerjakan oleh orang lain, melainkan dalam hal ini termasuk pula peraturan-peraturan umum yang mengandung norma yang harus ditaati oleh peserta didik.
Perintah ini dikatakan berhasil jika anak-anak menuruti perintah tersebut. Supaya sebuah perintah dapat ditaati oleh peserta didiknya, hendaknya memenuhi syarat-syarat sebuah perintah sebagai berikut :
a.       Sebuah perintah harus dikatakan dengan terang dan singkat sehingga mudah difahami anak
b.      Perintah disesuaikan dengan umur dan kemampuan anak
c.       Kadang perlu untuk mengubah sebuah perintah menjadi sebuah permintaan, biasanya dilakukan bagi anak yang sudah besar
d.      Tidak terlalu banyak dan berlebih-lebihan dalam memberi perintah
e.       Konsekuen terhadap perintah
f.       Perintah sebaiknya bersifat mengajak, maksudnya si pendidik juga harus turut melakukan
4.      Larangan
Larangan biasanya dilakukan jika anak melakukan sesuatu yang merugikan atau dapat membahayakan dirinya. Namun larangan yang terlalu sering kepada anak juga dapat menghambat perkembangan jasmani dan rohaninya, contohnya larangan bermain dengan teman-temannya.
Maka dari itu pendidik diharapkan tidak terlalu banyak melarang anak melakukan suatu perbuatan.


12
Bagi anak-anak yang masih kecil , sering lebih berhasil jika mengubah larangan tersebut menjadi sebuah perintah atau membelokan perhatian anak pada sesuatu yang lain yang menarik minatnya.
5.      Ganjaran
Ganjaran adalah salah satu alat untuk mendidik anak supaya anak merasa senang atas perbuatannya dan akan melakukannya lagi. Beberapa contoh ganjaran:
a.       Mengangguk-angguk tanda senang dan membenarkan apa yang dijawab atau dilakukan si anak
b.      Guru memberikan kata-kata pujian
c.       Ganjaran dapat pula berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak.
6.      Hukuman
Hukuman adalah alat pendidikan yang tidak menyenangkan berupa penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh pendidik kepada peserta didik setelah terjadinya suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan.
Sebagai alat pendidikan, hukuman hendaklah:
a.       Senantiasa merupakan jawaban atas suatu pelanggaran
b.      Sedikit banyaknya harus bersifat tidak menyenangkan
c.       Selalu bertujuan kea rah perbaikan da dilakukan untuk kepentingan anak itu sendiri.
d.      Harus disesuaikan dengan kepribadian si anak
e.       Pendidik sanggup memberi maaf setelah hukuman selesai dijalankan

B.               Fungsi  dan Tujuan Pendidikan

Fungsi utama pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak kepribadian serta peradaban yang bermartabat dalam hidup dan kehidupan atau pendidikan berfungsi memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang benar sesuai norma.


13
Menurut Langeveld, tujuan pendidikan ada enam macam, yaitu:
a.       Tujuan umum
Tujuan ini disebut juga tujuan total, tujuan yang sempurna atau tujuan akhir. Dalam hal ini Kohnstam dan Gunning mengatakan bahwa tujuan akhir dari pendidikan adalah untk membentuk insan kamil atau manusia sempurna. Manusia sempurna adalah manusia yang memiliki tiga hakikat manusia yaitu, sebagai makhluk individu, makhluk social dan makhluk susila
b.      Tujuan khusus
Untuk menuju tujuan umum , perlu adanya pengkhususan tujuan yang disesuaikan dengan situasi tertentu yang hendak dicapai berdasar usia, jenis kelamin, sifat, lingkungan bakat, intelegensi dll.
c.       Tujuan tak lengkap
Adalah tujuan yang menyangkut sebagian aspek manusia misalnya tujuan khusus pembentukan kecerdasan saja tanpa memperhatikan yang lainnya.
d.      Tujuan insidentil (sesaat)
Tujuan seperti ini timbul secara mendadak dan hanya bersifat sesaat, misalnya tuuan untuk mengadakan hiburan maka diadakan kegiatan darmawisata.
e.       Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah tujuan yang ingin dicapai dalam fase-fase tertentu pendidikan. Misalnya anak dimasukan ke sekolah, tujuannya adalah agar anak dapat membaca dan menulis
f.       Tujuan intimedier (perantara)
Tujuan ini merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang lain. Misalnya kita belajar bahasa inggris atau belanda untuk mempelajari buku-buku tertulis dalam bahsa Inggris.
Tujuan pendidikan dalam perspektif islam adalah untuk memberikan bantuan kepada manusia yang belum dewasa agar cakap menyelesaikan tugas hidupnya yang diridoi Allah SWT, terjalinnlah kebahagiaan dunia dan akhirat atas kuasanya sendiri (Drs. Abd Rahman Sholeh)


14

BAB III

PENUTUP


Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk menjadikan manusia sebagai manusia yang seutuhnya. Pendidikan tidak dapat berdiri sendiri, karenanya pendidikan membutuhkan komponen-komponen pendidikan diantaranya peserta didik, pendidik, alat pendidikan, lingkungan pendidikan dan alat pendidikan. Komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena tanpa adanya komponen tersebut maka tujuan pendidikan tidak akan tercapai.
 Tujuan pendidikan diantaranya tujuan umum, tujuan khusus, tujaun tak lengkap, tujuan insidentil, tujuan sementara dan tujuan perantara. Dalam perspektif islam tujuan pendidikan adalah untuk menjadikan manusia cakap dalam menjalani kehidupan untuk akhirat dan untuk mencari keridhoan Allah.


















15

DAFTAR PUSTAKA


Abu Ahmadi, Drs. Dan Nur Ubiayati.2001.Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Purwanto, Ngalim.1994.Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung:Remaja Roda Karya
Umar, T. dan S. La Sulo.2005.Pengantar Pendidikan. Jakarta: Runeka Cipta




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar